Blog Resmi SMPN 2 Dukuhturi

SMP NEGERI 2 DUKUHTURI

MENGUCAPKAN DIRGAHAYU KE-79 REPUBLIK INDONESIA.

KELUARGA BESAR SMPN 2 DUKUHTURI

Unsur Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMPN 2 Dukuhturi.

PRESTASI KITA

JUARA 1 LOMBA FLS2N CABANG ANSAMBLE CAMPURAN TINGKAT KABUPATEN TEGAL.

TIM PASKIBRAKA SMPN 2 DUKUHTURI

Keluarga besar SMP N 2 Dukuhturi.

MPLS 2024-2025

MPLS Asik tanpa perundungan dan deklarasi anti bullying SMPN 2 Dukuhturi.

Minggu, 08 Februari 2026

SPENDATURI PEDULI PADASARI

SMPN 2 Dukuhturi Galang Dana untuk Korban Bencana Tanah Bergerak di Desa Padasari

DUKUHTURI, TEGAL – Suasana apel pagi di lapangan SMP Negeri 2 Dukuhturi pada Senin (09/02) terasa berbeda dari biasanya. Di tengah barisan siswa yang rapi, terselip semangat kemanusiaan yang kuat saat sekolah menggelar aksi penggalangan dana untuk membantu warga terdampak bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kanupaten Tegal.

Kegiatan ini merupakan respon cepat pihak sekolah terhadap musibah alam yang merusak puluhan rumah di wilayah Tegal bagian selatan tersebut.

Pesan Karakter dalam Sambutan Kepala Sekolah

Dalam amanatnya di hadapan ratusan siswa, Kepala SMPN 2 Dukuhturi menekankan bahwa kegiatan penggalangan dana ini bukan sekadar mengumpulkan uang, melainkan sebuah laboratorium karakter bagi seluruh siswa. Beliau menyampaikan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan kecerdasan emosional dan kepedulian sosial.

"Pendidikan karakter tidak hanya didapat dari buku teks di dalam kelas, tetapi melalui aksi nyata seperti hari ini. Kita belajar untuk merasakan kesulitan orang lain. Hari ini kalian belajar bahwa sedikit dari apa yang kalian miliki, jika dikumpulkan bersama, akan menjadi kekuatan besar untuk membantu saudara kita di Padasari," tegas Kepala Sekolah dalam sambutannya.

Beliau juga menambahkan bahwa menanamkan jiwa gotong royong adalah investasi jangka panjang agar kelak para siswa tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat dan tanggap terhadap isu-isu kemanusiaan.

Antusiasme Siswa dalam Berdonasi

Usai amanat kepala sekolah, pengurus OSIS segera bergerak membawa kotak donasi dan mletakan di barisan tiap jenjang. Para siswa dengan antusias menyisihkan uang saku mereka, diikuti oleh jajaran guru dan staf karyawan. Meski besaran donasi bersifat sukarela, semangat yang ditunjukkan mencerminkan solidaritas yang tinggi.

Donasi yang terkumpul dihitung secara transparan dan segera disalurkan ke Dinas Pendidikan Kab. Tegal untuk di salurkan ke masyarakat terdampak bencana di Desa Padasari. Pihak sekolah berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban kebutuhan pokok para pengungsi yang saat ini tengah menghadapi ketidakpastian akibat pergeseran tanah yang terus terjadi.

Dengan adanya kegiatan ini, SMPN 2 Dukuhturi membuktikan komitmennya dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki hati yang peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya.

Aksi ini diharapkan dapat memicu semangat gotong royong yang lebih luas di kalangan masyarakat Kabupaten Tegal, sekaligus membuktikan bahwa generasi muda memiliki kepedulian yang tinggi terhadap isu-isu sosial di lingkungan sekitar.

oleh : TIM Jurnalistik SMPN 2 Dukuhturi


Share:

Rabu, 28 Januari 2026

CERITA KUTIPAN "AIR DAN LISTRIK"


Air dan Listrik

Sebuah Kisah Inspiratif yang dikutip dari buku koleksi perpus Arunika SMPN 2 Dukuhturi yang berjudul "Aku Tetap Anak Indonesia" karangan Dini Nurhasanah

          

  Air dan listrik menjadi bagian yang vital dalam kehidupan ini. Di zaman yang serba canggih ini, kita menggunakan alat yang tidak lepas dari penggunaan listrik. Jika terjadi pemadaman listrik, biasanya kita akan mengeluh karena aktivitas kita terganggu. Hal yang sama terkait dengan air. Air yang bening tentunya sangat diharapkan untuk membersihkan diri, memasak, atau aktivitas lain yang menggunakan air. Dua hal yang vital yang sering digunakan dalam 24 jam. Kamu akan merasa nyaman apabila keduanya tidak ada kendala, bukan? Balimku. Ada yang berbeda. Aku dibuatnya kagum dalam menghargai air dan listrik di sini. Senja itu aku dan Nuzul membuat hiasan kelas untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia esok hari. Kami ingin memberikan kejutan untuk mereka di tengah keterbatasan waktu yang ada. Semua harus selesai hari ini termasuk menyiapkan petugas upacara serta perangkat upacara. 

Dimulai dengan membuat bendera dari kertas asturo. Mulanya, kertas berwarna merah dan putih itu digunting. Selepas itu, kertas berwarna merah dan putih direkatkan menjadi satu. Jadilah sebuah bendera merah putih. Kami hanya bisa menghasilkan 23 bendera kertas karena terbatas kertas berwarna merah. Ini pun harus dijeda dengan berkumandangnya azan melalui televisi yang berada di rumah Pakcik Sulhan. Kami pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kami senang tatkala bantuan berdatangan. Rian kecil, Farah, dan Hendra mengunjungi rumah Pakcik Sulhan selepas magrib. Kami akan membuat rantai berwarna-warni. Rantai kertas ini akan ditempel di jendela sekolah. Kami membutuhkan rantai warnawarni yang panjang. Mulanya kami menggunting kertas berbentuk persegi panjang berukuran 5 x 3 cm, kemudian merekatkannya dengan lem sehingga berbentuk lingkaran. Lingkaran tersebut disambung kembali dengan kertas persegi panjang lainnya sehingga menjadi rantai. Tidak hanya itu, kami juga mempersiapkan berbagai teks upacara, bendera, teks Pancasila, dan susunan acara. Ada beberapa hal yang membuat kami harus memutar otak untuk rencana terbaik untuk esok. Terkait bendera, Cikgu Merry hanya mendapatkan bendera tanpa tiang kayu.

Kami pun mencari jalan keluarnya, yaitu dengan memegang bendera pada saat upacara. Ada hal yang mengganjal pada saat menyusun susunan acara dan menentukan petugasnya. Anak-anak di sekolah hanya ada sekitar sepuluh orang. Sempat mengalami kebingungan tersendiri melihat sumber daya yang terbatas. Sedih pula rasanya melihat perbedaan yang ada. Akhirnya, kami memutar otak untuk menyiasatinya. Kebetulan, malam itu ada tiga anak yang sedang main ke rumah. Kami pun langsung menunjuk mereka menjadi petugas upacara. Farah menjadi pembawa acara dan Hendra menjadi pemimpin upacara. Rian hanya menjadi peserta upacara karena dia belum pandai membaca. Lega rasanya ketika keadaan ini bisa kami atasi. Kami berharap dapat melaksanakan upacara dengan lancar esok hari. Waktu berputar cepat. Banyak hal yang kami lakukan membuat kami tidak menyadari waktu. Jam pendek menujukkan angka 9, sedangkan jarum panjang hampir ke angka 12. Hendra, Rian, dan Farah pun pamit. Mereka takut terjebak dalam kegelapan. Kegiatan membuat rantai berwarna-warni sebenarnya belum selesai penuh. Sudah tiga perempat langkah. Sedikit lagi. Ya, beginilah kondisinya di Balim. Aktivitas malam terbatas oleh pemadaman listrik. Kala malam listrik tidak bisa menyala hingga pagi.

Listrik akan padam tepat pada pukul 22.00 atau 22.30. Semalaman akan gelap gulita. Kala pagi listrik akan kembali menyala tatkala subuh menjelang hingga sekitar pukul 07.00, tatkala para pekerja berangkat ke ladang. Siang pun tidak ada listrik. Warga dapat menghampiri tempat untuk menimbang truk kelapa sawit jika membutuhkan listrik dalam jumlah kecil. Air di Balim pun berbeda. Sebelum sampai di sini, aku pernah mendengar kabar tentang air Balim yang berwarna merah. Air itu merupakan air tanah. Entah apa yang menyebabkan airnya berwarna merah bercampur kecokelatan. Ketika sampai di rumah Pakcik Sulhan, aku langsung menyicipi air merah tersebut. Aku mengambil dari keran dengan menggunakan kedua tanganku. Memasukkannya ke dalam mulut. Bola mataku berputar dengan mulut yang terisi air merah. Tidak ada rasanya. Air merah itu tidak ada rasanya. Hambar. Tidak kurasakan pula kesegarannya. Aku pun menyemburkannya. Aku mengambil lagi dengan kedua tanganku. Menciumnya. Air merah ini tidak berbau. Kubuka lagi tutup kran yang berada tepat di sebelah kran air merah. Kali ini air berwarna putih, sama dengan air putih yang biasa kurasakan di rumahku. Mengambilnya lagi, kemudian mencium aromanya. Air putih tanpa aroma.

Aku mengambil makna di balik padamnya listrik yang setiap hari mereka rasakan. Makna yang mampu mengajarkanku untuk bersyukur atas nikmat yang jarang kusyukuri selama ini. Tidak hanya itu, ada pula hikmah dibalik pola kehidupan masyarakat sehari-hari. Listrik yang menyala kala pagi sekitar pukul 04.00 dan padam pukul 07.30 membuat warga harus bangun lebih awal untuk beraktivitas. Warga tidak bisa bermalasan menunggu matahari menyingsing tinggi. Perempuan yang memasak nasi menggunakan rice cooker harus melakukannya ada pagi hari. Tidak hanya itu, mereka harus memasak lauk-pauk untuk bekal ke ladang. Ibu-ibu yang masih memiliki bayi atau balita pun harus mempersiapkan bekal bayi atau balitanya, kemudian menitipkan anak mereka ke penitipan anak yang biasa disebut dengan kandang budak. Setelahnya, mereka bersiap ke ladang. Laki-laki pun harus mempersiapkan diri pergi ke ladang. Sekitar pukul 05.30 semua kegiatan harus selesai dilakukan sebab mereka harus hadir saat pemeriksaan kehadiran pekerja oleh mandor. Listrik menyala lagi sekitar pukul 18.00. Aktivitas bersantai dilakukan kala petang selepas bekerja seharian di ladang. Ada hiburan yang menyatukan kehangatan keluarga, yaitu siaran televisi dari tanah air. 

Anak-anak pun dapat belajar dengan dibimbing oleh orang tua mereka. Kegiatan bersantai ini bisa mereka rasakan hingga pukul 22.30. Selepas itu, listrik akan padam. Maksudnya, mengajak warga untuk segera beristirahat karena esok mereka harus kembali bekerja. Warga diharapkan tidak tidur terlampau larut supaya bisa memaksimalkan diri untuk esok hari. Anak-anak pun dapat berangkat ke sekolah pagi hari tanpa terlambat atau tanpa rasa letih. Mereka tampak segar dengan wajah ceria kala pagi hari. Hal ini berlangsung setiap harinya sehingga warga hidup teratur untuk bangun sebelum matahari menyingsing dan terpejam sebelum tengah malam. Ini semua yang tidak kutemukan saat di Indonesia. Di Indonesia aku bisa merasakan akses listrik dan air selama 24 jam tanpa batas. Apabila ada gangguan, aku kerap mengeluh kesal. Namun, tatkala di sana aku merasa bersyukur bisa hidup teratur karena peraturan ini. Aku bangun dan tidur teratur sehingga bisa memaksimalkan diri kala beraktivitas. Tidak kurasakan badan yang letih karena tidur larut malam dan aku masih bisa merasakan matahari yang mengintip di balik perkebunan sawit. Mereka tidak pula mengeluh soal air. Air merah itu dianggap sebagai anugerah Tuhan. Mereka berharap Tuhan meneteskan hujan supaya drum-drum penampungan mereka penuh. “Balim mengajarkan banyak hal tentang syukur.”  


           Link E-Book :  http://myme.my.id/index.php?p=fstream&fid=603&bid=2789

Share:

Senin, 26 Januari 2026

CERITA MOTIVASI

 

Ini adalah sebuah cerita pendek tentang ketangguhan, adab, dan impian yang melampaui keterbatasan ekonomi. Cerita ini ditulis untuk bisa meningkatkan motivasi kita dalam belajar dan bersekolah di zaman yang serba mudah dan serba terpenuhi oleh kecanggihan teknologi. semoga tulisan ini bisa membantu kita untuk bisa lebih semangat lagi dalam belajar dalam meraih mimpi setiap siswa-siswi di sekolah.                                                                                                    
Sepasang Sepatu yang Tak Pernah Lelah

Matahari bahkan belum sepenuhnya bangun ketika Aris sudah menyampirkan tas kainnya yang mulai menipis. Di dapur kecil beralaskan tanah, ibunya menyerahkan sebuah bungkusan nasi putih dengan lauk garam dan tempe goreng sisa semalam.

"Hati-hati, Le. Belajar yang rajin," bisik ibunya lembut. Aris tersenyum, mencium punggung tangan ibunya dengan takzim, lalu melangkah keluar.

Jarak rumah Aris ke SMP Bakti Bangsa adalah lima kilometer. Karena tak ada uang untuk angkot, jalan kaki adalah satu-satunya pilihan. Sepatunya sudah bicara—solnya mulai menganga—namun semangat Aris jauh lebih kokoh dari karet sepatu yang aus itu.

Adab di Atas Segalanya

Sesampainya di gerbang sekolah, Aris berpapasan dengan Pak Danu, guru Matematika yang terkenal galak. Di saat siswa lain cenderung menghindar atau hanya menunduk sekilas, Aris berhenti sejenak. Ia membungkukkan badan dan menyapa dengan tulus.

"Selamat pagi, Pak Danu. Semoga Bapak sehat hari ini," ucapnya dengan senyum hangat.

Pak Danu tertegun. Di tengah gempuran teknologi dan pergeseran sikap remaja, kesantunan Aris seperti oase. "Pagi, Aris. Semangat sekali kamu hari ini," balas Pak Danu, raut wajahnya melembut.

Di kelas pun sama. Aris bukanlah siswa yang paling vokal karena kesombongan, melainkan karena rasa ingin tahu. Ketika temannya, Reno, kesulitan memahami rumus logaritma dan mulai diejek oleh siswa lain, Aris tidak ikut tertawa. Ia justru mendekat saat jam istirahat.

"Ren, mau coba kerjakan bareng? Aku juga baru paham sedikit, kalau kita bahas berdua pasti lebih cepat mengerti," ajak Aris tanpa nada menggurui. Aris tahu betul rasanya direndahkan, karena itu ia memilih untuk selalu menghargai siapa pun.

Ujian yang Sesungguhnya

Suatu hari, badai hujan turun sangat deras. Aris tiba di sekolah dengan keadaan basah kuyup karena payung plastiknya robek diterjang angin. Ia menggigil di pojok kelas.

Bu Sarah, wali kelasnya, memanggil Aris ke ruang guru. Beliau tahu kondisi Aris yang sering menunggak uang seragam. "Aris, kenapa kamu tetap memaksakan datang? Kamu bisa sakit."

Aris menunduk sebentar, lalu menatap Bu Sarah dengan mata yang jernih. "Bu, rumah saya mungkin kecil dan bocor, tapi sekolah ini adalah pintu menuju rumah yang lebih baik untuk Ibu saya. Kalau saya absen satu hari karena hujan, saya merasa sudah menutup pintu itu satu jengkal."

Bu Sarah terdiam. Ia melihat bukan hanya seorang siswa miskin, tapi seorang calon pemimpin yang memiliki integritas.

Buah dari Ketulusan

Ketekunan Aris membuahkan hasil. Menjelang kelulusan, sebuah pengumuman tertempel di mading. Aris berhasil mendapatkan beasiswa penuh di universitas ternama di ibu kota.

Namun, yang paling mengharukan bukanlah prestasinya, melainkan saat teman-teman sekelasnya—termasuk Reno yang dulu ia bantu—mengumpulkan uang saku mereka untuk membelikan Aris sepasang sepatu baru yang kokoh.

"Ini buat perjalananmu ke kota, Ris. Jangan lupakan kami ya," kata Reno sambil merangkul pundak Aris.

Aris menyadari satu hal: Kemiskinan mungkin bisa membatasi fasilitas, tapi tidak bisa membatasi martabat dan kebaikan hati. Dengan adab yang baik, dunia tidak hanya memberikan jalan, tapi juga memberikan dukungan.


Pesan Edukasi:

  • Resiliensi: Keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang, melainkan bahan bakar untuk berjuang lebih keras.

  • Etika (Adab): Kepintaran tanpa kesantunan akan kosong. Menghormati guru dan menghargai teman membuka banyak pintu rezeki dan kesempatan.

  • Solidaritas: Kebaikan yang kita tanam kepada teman akan kembali kepada kita di saat yang tidak terduga.



Oleh : TIM Jurnalistik SMPN 2 Dukuhturi
Share:

Malika al-Hurra – Ratu Pejuang Maghrib yang Tak Pernah Tunduk

 

Malika al-HurraRatu Pejuang Maghrib yang Tak Pernah Tunduk
Di pesisir utara Maroko, ombak Laut Mediterania memukul karang dengan keras, seakan menggaungkan kemarahan sebuah negeri yang dijajah. Di atas benteng Tetouan, seorang wanita berdiri menghadap laut—jubah hitamnya berkibar diterpa angin, matanya tajam menatap kapal-kapal musuh. Dialah Malika al-Hurra, ratu bajak laut Muslim yang ditakuti Spanyol dan Portugis.
Malika al-Hurra lahir dari keluarga bangsawan Andalusia yang terusir akibat jatuhnya Granada. Sejak kecil, ia menyaksikan tanah Islam dirampas, masjid dijadikan gereja, dan kaum Muslimin diusir dari kampung halamannya. Dari luka itulah tekadnya terbentuk: ia tidak akan hidup sebagai wanita yang tunduk.
Setelah hijrah ke Maghrib, Malika tumbuh menjadi pemimpin cerdas dan berani. Ia menguasai strategi laut, diplomasi, dan peperangan. Ketika para penguasa pria ragu menghadapi armada Kristen, Malika justru membangun kekuatan maritim yang tak tertandingi.
Ia memimpin armada laut Islam yang menyerang kapal-kapal Spanyol dan Portugis. Di malam gelap tanpa bulan, kapal-kapalnya meluncur seperti bayangan kematian. Tawanan Muslim dibebaskan, harta rampasan perang digunakan untuk memperkuat umat, dan pesan jelas dikirim ke Eropa:
Maghrib tidak akan pernah tunduk.
Keberaniannya membuat para raja Kristen gemetar. Mereka menyebutnya Queen of the Mediterranean, sementara kaum Muslimin mengenalnya sebagai Malika al-Hurra — Ratu Merdeka.
Puncak kejayaannya terjadi saat ia menikah dengan Sultan Ahmad al-Wattasi. Namun Malika menolak meninggalkan Tetouan. Ia tidak mau menjadi bayangan di istana. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Maghrib, seorang sultan datang ke wilayah ratu untuk menikah—sebuah simbol bahwa kekuasaan Malika sejajar dengan raja mana pun.
Meski akhirnya kekuasaannya runtuh akibat pengkhianatan dan intrik politik, nama Malika al-Hurra tak pernah tenggelam. Ia telah membuktikan satu hal penting dalam sejarah Islam:
bahwa wanita bukan hanya penjaga rumah, tetapi juga penjaga kehormatan negeri.
Malika al-Hurra bukan sekadar ratu.
Ia adalah ombak perlawanan yang tak pernah berhenti menghantam penjajah

dikutip dari Facebook postingan Chaneli Erfan
Share:

Blogger templates