Air dan Listrik
Sebuah Kisah Inspiratif yang dikutip dari buku koleksi perpus Arunika SMPN 2 Dukuhturi yang berjudul "Aku Tetap Anak Indonesia" karangan Dini Nurhasanah
Air dan listrik menjadi bagian yang vital dalam kehidupan ini. Di zaman yang serba canggih ini, kita menggunakan alat yang tidak lepas dari penggunaan listrik. Jika terjadi pemadaman listrik, biasanya kita akan mengeluh karena aktivitas kita terganggu. Hal yang sama terkait dengan air. Air yang bening tentunya sangat diharapkan untuk membersihkan diri, memasak, atau aktivitas lain yang menggunakan air. Dua hal yang vital yang sering digunakan dalam 24 jam. Kamu akan merasa nyaman apabila keduanya tidak ada kendala, bukan? Balimku. Ada yang berbeda. Aku dibuatnya kagum dalam menghargai air dan listrik di sini. Senja itu aku dan Nuzul membuat hiasan kelas untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia esok hari. Kami ingin memberikan kejutan untuk mereka di tengah keterbatasan waktu yang ada. Semua harus selesai hari ini termasuk menyiapkan petugas upacara serta perangkat upacara.
Dimulai dengan membuat bendera dari kertas asturo. Mulanya, kertas berwarna merah dan putih itu digunting. Selepas itu, kertas berwarna merah dan putih direkatkan menjadi satu. Jadilah sebuah bendera merah putih. Kami hanya bisa menghasilkan 23 bendera kertas karena terbatas kertas berwarna merah. Ini pun harus dijeda dengan berkumandangnya azan melalui televisi yang berada di rumah Pakcik Sulhan. Kami pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kami senang tatkala bantuan berdatangan. Rian kecil, Farah, dan Hendra mengunjungi rumah Pakcik Sulhan selepas magrib. Kami akan membuat rantai berwarna-warni. Rantai kertas ini akan ditempel di jendela sekolah. Kami membutuhkan rantai warnawarni yang panjang. Mulanya kami menggunting kertas berbentuk persegi panjang berukuran 5 x 3 cm, kemudian merekatkannya dengan lem sehingga berbentuk lingkaran. Lingkaran tersebut disambung kembali dengan kertas persegi panjang lainnya sehingga menjadi rantai. Tidak hanya itu, kami juga mempersiapkan berbagai teks upacara, bendera, teks Pancasila, dan susunan acara. Ada beberapa hal yang membuat kami harus memutar otak untuk rencana terbaik untuk esok. Terkait bendera, Cikgu Merry hanya mendapatkan bendera tanpa tiang kayu.
Kami pun mencari jalan keluarnya, yaitu dengan memegang bendera pada saat upacara. Ada hal yang mengganjal pada saat menyusun susunan acara dan menentukan petugasnya. Anak-anak di sekolah hanya ada sekitar sepuluh orang. Sempat mengalami kebingungan tersendiri melihat sumber daya yang terbatas. Sedih pula rasanya melihat perbedaan yang ada. Akhirnya, kami memutar otak untuk menyiasatinya. Kebetulan, malam itu ada tiga anak yang sedang main ke rumah. Kami pun langsung menunjuk mereka menjadi petugas upacara. Farah menjadi pembawa acara dan Hendra menjadi pemimpin upacara. Rian hanya menjadi peserta upacara karena dia belum pandai membaca. Lega rasanya ketika keadaan ini bisa kami atasi. Kami berharap dapat melaksanakan upacara dengan lancar esok hari. Waktu berputar cepat. Banyak hal yang kami lakukan membuat kami tidak menyadari waktu. Jam pendek menujukkan angka 9, sedangkan jarum panjang hampir ke angka 12. Hendra, Rian, dan Farah pun pamit. Mereka takut terjebak dalam kegelapan. Kegiatan membuat rantai berwarna-warni sebenarnya belum selesai penuh. Sudah tiga perempat langkah. Sedikit lagi. Ya, beginilah kondisinya di Balim. Aktivitas malam terbatas oleh pemadaman listrik. Kala malam listrik tidak bisa menyala hingga pagi.
Listrik akan padam tepat pada pukul 22.00 atau 22.30. Semalaman akan gelap gulita. Kala pagi listrik akan kembali menyala tatkala subuh menjelang hingga sekitar pukul 07.00, tatkala para pekerja berangkat ke ladang. Siang pun tidak ada listrik. Warga dapat menghampiri tempat untuk menimbang truk kelapa sawit jika membutuhkan listrik dalam jumlah kecil. Air di Balim pun berbeda. Sebelum sampai di sini, aku pernah mendengar kabar tentang air Balim yang berwarna merah. Air itu merupakan air tanah. Entah apa yang menyebabkan airnya berwarna merah bercampur kecokelatan. Ketika sampai di rumah Pakcik Sulhan, aku langsung menyicipi air merah tersebut. Aku mengambil dari keran dengan menggunakan kedua tanganku. Memasukkannya ke dalam mulut. Bola mataku berputar dengan mulut yang terisi air merah. Tidak ada rasanya. Air merah itu tidak ada rasanya. Hambar. Tidak kurasakan pula kesegarannya. Aku pun menyemburkannya. Aku mengambil lagi dengan kedua tanganku. Menciumnya. Air merah ini tidak berbau. Kubuka lagi tutup kran yang berada tepat di sebelah kran air merah. Kali ini air berwarna putih, sama dengan air putih yang biasa kurasakan di rumahku. Mengambilnya lagi, kemudian mencium aromanya. Air putih tanpa aroma.
Aku mengambil makna di balik padamnya listrik yang setiap hari mereka rasakan. Makna yang mampu mengajarkanku untuk bersyukur atas nikmat yang jarang kusyukuri selama ini. Tidak hanya itu, ada pula hikmah dibalik pola kehidupan masyarakat sehari-hari. Listrik yang menyala kala pagi sekitar pukul 04.00 dan padam pukul 07.30 membuat warga harus bangun lebih awal untuk beraktivitas. Warga tidak bisa bermalasan menunggu matahari menyingsing tinggi. Perempuan yang memasak nasi menggunakan rice cooker harus melakukannya ada pagi hari. Tidak hanya itu, mereka harus memasak lauk-pauk untuk bekal ke ladang. Ibu-ibu yang masih memiliki bayi atau balita pun harus mempersiapkan bekal bayi atau balitanya, kemudian menitipkan anak mereka ke penitipan anak yang biasa disebut dengan kandang budak. Setelahnya, mereka bersiap ke ladang. Laki-laki pun harus mempersiapkan diri pergi ke ladang. Sekitar pukul 05.30 semua kegiatan harus selesai dilakukan sebab mereka harus hadir saat pemeriksaan kehadiran pekerja oleh mandor. Listrik menyala lagi sekitar pukul 18.00. Aktivitas bersantai dilakukan kala petang selepas bekerja seharian di ladang. Ada hiburan yang menyatukan kehangatan keluarga, yaitu siaran televisi dari tanah air.
Anak-anak pun dapat belajar dengan dibimbing oleh orang tua mereka. Kegiatan bersantai ini bisa mereka rasakan hingga pukul 22.30. Selepas itu, listrik akan padam. Maksudnya, mengajak warga untuk segera beristirahat karena esok mereka harus kembali bekerja. Warga diharapkan tidak tidur terlampau larut supaya bisa memaksimalkan diri untuk esok hari. Anak-anak pun dapat berangkat ke sekolah pagi hari tanpa terlambat atau tanpa rasa letih. Mereka tampak segar dengan wajah ceria kala pagi hari. Hal ini berlangsung setiap harinya sehingga warga hidup teratur untuk bangun sebelum matahari menyingsing dan terpejam sebelum tengah malam. Ini semua yang tidak kutemukan saat di Indonesia. Di Indonesia aku bisa merasakan akses listrik dan air selama 24 jam tanpa batas. Apabila ada gangguan, aku kerap mengeluh kesal. Namun, tatkala di sana aku merasa bersyukur bisa hidup teratur karena peraturan ini. Aku bangun dan tidur teratur sehingga bisa memaksimalkan diri kala beraktivitas. Tidak kurasakan badan yang letih karena tidur larut malam dan aku masih bisa merasakan matahari yang mengintip di balik perkebunan sawit. Mereka tidak pula mengeluh soal air. Air merah itu dianggap sebagai anugerah Tuhan. Mereka berharap Tuhan meneteskan hujan supaya drum-drum penampungan mereka penuh. “Balim mengajarkan banyak hal tentang syukur.”
Link E-Book : http://myme.my.id/index.php?p=fstream&fid=603&bid=2789














