Blog Resmi SMPN 2 Dukuhturi

SMP NEGERI 2 DUKUHTURI

MENGUCAPKAN DIRGAHAYU KE-79 REPUBLIK INDONESIA.

KELUARGA BESAR SMPN 2 DUKUHTURI

Unsur Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMPN 2 Dukuhturi.

PRESTASI KITA

JUARA 1 LOMBA FLS2N CABANG ANSAMBLE CAMPURAN TINGKAT KABUPATEN TEGAL.

TIM PASKIBRAKA SMPN 2 DUKUHTURI

Keluarga besar SMP N 2 Dukuhturi.

MPLS 2024-2025

MPLS Asik tanpa perundungan dan deklarasi anti bullying SMPN 2 Dukuhturi.

Rabu, 28 Januari 2026

CERITA KUTIPAN "AIR DAN LISTRIK"


Air dan Listrik

Sebuah Kisah Inspiratif yang dikutip dari buku koleksi perpus Arunika SMPN 2 Dukuhturi yang berjudul "Aku Tetap Anak Indonesia" karangan Dini Nurhasanah

          

  Air dan listrik menjadi bagian yang vital dalam kehidupan ini. Di zaman yang serba canggih ini, kita menggunakan alat yang tidak lepas dari penggunaan listrik. Jika terjadi pemadaman listrik, biasanya kita akan mengeluh karena aktivitas kita terganggu. Hal yang sama terkait dengan air. Air yang bening tentunya sangat diharapkan untuk membersihkan diri, memasak, atau aktivitas lain yang menggunakan air. Dua hal yang vital yang sering digunakan dalam 24 jam. Kamu akan merasa nyaman apabila keduanya tidak ada kendala, bukan? Balimku. Ada yang berbeda. Aku dibuatnya kagum dalam menghargai air dan listrik di sini. Senja itu aku dan Nuzul membuat hiasan kelas untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia esok hari. Kami ingin memberikan kejutan untuk mereka di tengah keterbatasan waktu yang ada. Semua harus selesai hari ini termasuk menyiapkan petugas upacara serta perangkat upacara. 

Dimulai dengan membuat bendera dari kertas asturo. Mulanya, kertas berwarna merah dan putih itu digunting. Selepas itu, kertas berwarna merah dan putih direkatkan menjadi satu. Jadilah sebuah bendera merah putih. Kami hanya bisa menghasilkan 23 bendera kertas karena terbatas kertas berwarna merah. Ini pun harus dijeda dengan berkumandangnya azan melalui televisi yang berada di rumah Pakcik Sulhan. Kami pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kami senang tatkala bantuan berdatangan. Rian kecil, Farah, dan Hendra mengunjungi rumah Pakcik Sulhan selepas magrib. Kami akan membuat rantai berwarna-warni. Rantai kertas ini akan ditempel di jendela sekolah. Kami membutuhkan rantai warnawarni yang panjang. Mulanya kami menggunting kertas berbentuk persegi panjang berukuran 5 x 3 cm, kemudian merekatkannya dengan lem sehingga berbentuk lingkaran. Lingkaran tersebut disambung kembali dengan kertas persegi panjang lainnya sehingga menjadi rantai. Tidak hanya itu, kami juga mempersiapkan berbagai teks upacara, bendera, teks Pancasila, dan susunan acara. Ada beberapa hal yang membuat kami harus memutar otak untuk rencana terbaik untuk esok. Terkait bendera, Cikgu Merry hanya mendapatkan bendera tanpa tiang kayu.

Kami pun mencari jalan keluarnya, yaitu dengan memegang bendera pada saat upacara. Ada hal yang mengganjal pada saat menyusun susunan acara dan menentukan petugasnya. Anak-anak di sekolah hanya ada sekitar sepuluh orang. Sempat mengalami kebingungan tersendiri melihat sumber daya yang terbatas. Sedih pula rasanya melihat perbedaan yang ada. Akhirnya, kami memutar otak untuk menyiasatinya. Kebetulan, malam itu ada tiga anak yang sedang main ke rumah. Kami pun langsung menunjuk mereka menjadi petugas upacara. Farah menjadi pembawa acara dan Hendra menjadi pemimpin upacara. Rian hanya menjadi peserta upacara karena dia belum pandai membaca. Lega rasanya ketika keadaan ini bisa kami atasi. Kami berharap dapat melaksanakan upacara dengan lancar esok hari. Waktu berputar cepat. Banyak hal yang kami lakukan membuat kami tidak menyadari waktu. Jam pendek menujukkan angka 9, sedangkan jarum panjang hampir ke angka 12. Hendra, Rian, dan Farah pun pamit. Mereka takut terjebak dalam kegelapan. Kegiatan membuat rantai berwarna-warni sebenarnya belum selesai penuh. Sudah tiga perempat langkah. Sedikit lagi. Ya, beginilah kondisinya di Balim. Aktivitas malam terbatas oleh pemadaman listrik. Kala malam listrik tidak bisa menyala hingga pagi.

Listrik akan padam tepat pada pukul 22.00 atau 22.30. Semalaman akan gelap gulita. Kala pagi listrik akan kembali menyala tatkala subuh menjelang hingga sekitar pukul 07.00, tatkala para pekerja berangkat ke ladang. Siang pun tidak ada listrik. Warga dapat menghampiri tempat untuk menimbang truk kelapa sawit jika membutuhkan listrik dalam jumlah kecil. Air di Balim pun berbeda. Sebelum sampai di sini, aku pernah mendengar kabar tentang air Balim yang berwarna merah. Air itu merupakan air tanah. Entah apa yang menyebabkan airnya berwarna merah bercampur kecokelatan. Ketika sampai di rumah Pakcik Sulhan, aku langsung menyicipi air merah tersebut. Aku mengambil dari keran dengan menggunakan kedua tanganku. Memasukkannya ke dalam mulut. Bola mataku berputar dengan mulut yang terisi air merah. Tidak ada rasanya. Air merah itu tidak ada rasanya. Hambar. Tidak kurasakan pula kesegarannya. Aku pun menyemburkannya. Aku mengambil lagi dengan kedua tanganku. Menciumnya. Air merah ini tidak berbau. Kubuka lagi tutup kran yang berada tepat di sebelah kran air merah. Kali ini air berwarna putih, sama dengan air putih yang biasa kurasakan di rumahku. Mengambilnya lagi, kemudian mencium aromanya. Air putih tanpa aroma.

Aku mengambil makna di balik padamnya listrik yang setiap hari mereka rasakan. Makna yang mampu mengajarkanku untuk bersyukur atas nikmat yang jarang kusyukuri selama ini. Tidak hanya itu, ada pula hikmah dibalik pola kehidupan masyarakat sehari-hari. Listrik yang menyala kala pagi sekitar pukul 04.00 dan padam pukul 07.30 membuat warga harus bangun lebih awal untuk beraktivitas. Warga tidak bisa bermalasan menunggu matahari menyingsing tinggi. Perempuan yang memasak nasi menggunakan rice cooker harus melakukannya ada pagi hari. Tidak hanya itu, mereka harus memasak lauk-pauk untuk bekal ke ladang. Ibu-ibu yang masih memiliki bayi atau balita pun harus mempersiapkan bekal bayi atau balitanya, kemudian menitipkan anak mereka ke penitipan anak yang biasa disebut dengan kandang budak. Setelahnya, mereka bersiap ke ladang. Laki-laki pun harus mempersiapkan diri pergi ke ladang. Sekitar pukul 05.30 semua kegiatan harus selesai dilakukan sebab mereka harus hadir saat pemeriksaan kehadiran pekerja oleh mandor. Listrik menyala lagi sekitar pukul 18.00. Aktivitas bersantai dilakukan kala petang selepas bekerja seharian di ladang. Ada hiburan yang menyatukan kehangatan keluarga, yaitu siaran televisi dari tanah air. 

Anak-anak pun dapat belajar dengan dibimbing oleh orang tua mereka. Kegiatan bersantai ini bisa mereka rasakan hingga pukul 22.30. Selepas itu, listrik akan padam. Maksudnya, mengajak warga untuk segera beristirahat karena esok mereka harus kembali bekerja. Warga diharapkan tidak tidur terlampau larut supaya bisa memaksimalkan diri untuk esok hari. Anak-anak pun dapat berangkat ke sekolah pagi hari tanpa terlambat atau tanpa rasa letih. Mereka tampak segar dengan wajah ceria kala pagi hari. Hal ini berlangsung setiap harinya sehingga warga hidup teratur untuk bangun sebelum matahari menyingsing dan terpejam sebelum tengah malam. Ini semua yang tidak kutemukan saat di Indonesia. Di Indonesia aku bisa merasakan akses listrik dan air selama 24 jam tanpa batas. Apabila ada gangguan, aku kerap mengeluh kesal. Namun, tatkala di sana aku merasa bersyukur bisa hidup teratur karena peraturan ini. Aku bangun dan tidur teratur sehingga bisa memaksimalkan diri kala beraktivitas. Tidak kurasakan badan yang letih karena tidur larut malam dan aku masih bisa merasakan matahari yang mengintip di balik perkebunan sawit. Mereka tidak pula mengeluh soal air. Air merah itu dianggap sebagai anugerah Tuhan. Mereka berharap Tuhan meneteskan hujan supaya drum-drum penampungan mereka penuh. “Balim mengajarkan banyak hal tentang syukur.”  


           Link E-Book :  http://myme.my.id/index.php?p=fstream&fid=603&bid=2789

Share:

Senin, 26 Januari 2026

CERITA MOTIVASI

 

Ini adalah sebuah cerita pendek tentang ketangguhan, adab, dan impian yang melampaui keterbatasan ekonomi. Cerita ini ditulis untuk bisa meningkatkan motivasi kita dalam belajar dan bersekolah di zaman yang serba mudah dan serba terpenuhi oleh kecanggihan teknologi. semoga tulisan ini bisa membantu kita untuk bisa lebih semangat lagi dalam belajar dalam meraih mimpi setiap siswa-siswi di sekolah.                                                                                                    
Sepasang Sepatu yang Tak Pernah Lelah

Matahari bahkan belum sepenuhnya bangun ketika Aris sudah menyampirkan tas kainnya yang mulai menipis. Di dapur kecil beralaskan tanah, ibunya menyerahkan sebuah bungkusan nasi putih dengan lauk garam dan tempe goreng sisa semalam.

"Hati-hati, Le. Belajar yang rajin," bisik ibunya lembut. Aris tersenyum, mencium punggung tangan ibunya dengan takzim, lalu melangkah keluar.

Jarak rumah Aris ke SMP Bakti Bangsa adalah lima kilometer. Karena tak ada uang untuk angkot, jalan kaki adalah satu-satunya pilihan. Sepatunya sudah bicara—solnya mulai menganga—namun semangat Aris jauh lebih kokoh dari karet sepatu yang aus itu.

Adab di Atas Segalanya

Sesampainya di gerbang sekolah, Aris berpapasan dengan Pak Danu, guru Matematika yang terkenal galak. Di saat siswa lain cenderung menghindar atau hanya menunduk sekilas, Aris berhenti sejenak. Ia membungkukkan badan dan menyapa dengan tulus.

"Selamat pagi, Pak Danu. Semoga Bapak sehat hari ini," ucapnya dengan senyum hangat.

Pak Danu tertegun. Di tengah gempuran teknologi dan pergeseran sikap remaja, kesantunan Aris seperti oase. "Pagi, Aris. Semangat sekali kamu hari ini," balas Pak Danu, raut wajahnya melembut.

Di kelas pun sama. Aris bukanlah siswa yang paling vokal karena kesombongan, melainkan karena rasa ingin tahu. Ketika temannya, Reno, kesulitan memahami rumus logaritma dan mulai diejek oleh siswa lain, Aris tidak ikut tertawa. Ia justru mendekat saat jam istirahat.

"Ren, mau coba kerjakan bareng? Aku juga baru paham sedikit, kalau kita bahas berdua pasti lebih cepat mengerti," ajak Aris tanpa nada menggurui. Aris tahu betul rasanya direndahkan, karena itu ia memilih untuk selalu menghargai siapa pun.

Ujian yang Sesungguhnya

Suatu hari, badai hujan turun sangat deras. Aris tiba di sekolah dengan keadaan basah kuyup karena payung plastiknya robek diterjang angin. Ia menggigil di pojok kelas.

Bu Sarah, wali kelasnya, memanggil Aris ke ruang guru. Beliau tahu kondisi Aris yang sering menunggak uang seragam. "Aris, kenapa kamu tetap memaksakan datang? Kamu bisa sakit."

Aris menunduk sebentar, lalu menatap Bu Sarah dengan mata yang jernih. "Bu, rumah saya mungkin kecil dan bocor, tapi sekolah ini adalah pintu menuju rumah yang lebih baik untuk Ibu saya. Kalau saya absen satu hari karena hujan, saya merasa sudah menutup pintu itu satu jengkal."

Bu Sarah terdiam. Ia melihat bukan hanya seorang siswa miskin, tapi seorang calon pemimpin yang memiliki integritas.

Buah dari Ketulusan

Ketekunan Aris membuahkan hasil. Menjelang kelulusan, sebuah pengumuman tertempel di mading. Aris berhasil mendapatkan beasiswa penuh di universitas ternama di ibu kota.

Namun, yang paling mengharukan bukanlah prestasinya, melainkan saat teman-teman sekelasnya—termasuk Reno yang dulu ia bantu—mengumpulkan uang saku mereka untuk membelikan Aris sepasang sepatu baru yang kokoh.

"Ini buat perjalananmu ke kota, Ris. Jangan lupakan kami ya," kata Reno sambil merangkul pundak Aris.

Aris menyadari satu hal: Kemiskinan mungkin bisa membatasi fasilitas, tapi tidak bisa membatasi martabat dan kebaikan hati. Dengan adab yang baik, dunia tidak hanya memberikan jalan, tapi juga memberikan dukungan.


Pesan Edukasi:

  • Resiliensi: Keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang, melainkan bahan bakar untuk berjuang lebih keras.

  • Etika (Adab): Kepintaran tanpa kesantunan akan kosong. Menghormati guru dan menghargai teman membuka banyak pintu rezeki dan kesempatan.

  • Solidaritas: Kebaikan yang kita tanam kepada teman akan kembali kepada kita di saat yang tidak terduga.



Oleh : TIM Jurnalistik SMPN 2 Dukuhturi
Share:

Malika al-Hurra – Ratu Pejuang Maghrib yang Tak Pernah Tunduk

 

Malika al-HurraRatu Pejuang Maghrib yang Tak Pernah Tunduk
Di pesisir utara Maroko, ombak Laut Mediterania memukul karang dengan keras, seakan menggaungkan kemarahan sebuah negeri yang dijajah. Di atas benteng Tetouan, seorang wanita berdiri menghadap laut—jubah hitamnya berkibar diterpa angin, matanya tajam menatap kapal-kapal musuh. Dialah Malika al-Hurra, ratu bajak laut Muslim yang ditakuti Spanyol dan Portugis.
Malika al-Hurra lahir dari keluarga bangsawan Andalusia yang terusir akibat jatuhnya Granada. Sejak kecil, ia menyaksikan tanah Islam dirampas, masjid dijadikan gereja, dan kaum Muslimin diusir dari kampung halamannya. Dari luka itulah tekadnya terbentuk: ia tidak akan hidup sebagai wanita yang tunduk.
Setelah hijrah ke Maghrib, Malika tumbuh menjadi pemimpin cerdas dan berani. Ia menguasai strategi laut, diplomasi, dan peperangan. Ketika para penguasa pria ragu menghadapi armada Kristen, Malika justru membangun kekuatan maritim yang tak tertandingi.
Ia memimpin armada laut Islam yang menyerang kapal-kapal Spanyol dan Portugis. Di malam gelap tanpa bulan, kapal-kapalnya meluncur seperti bayangan kematian. Tawanan Muslim dibebaskan, harta rampasan perang digunakan untuk memperkuat umat, dan pesan jelas dikirim ke Eropa:
Maghrib tidak akan pernah tunduk.
Keberaniannya membuat para raja Kristen gemetar. Mereka menyebutnya Queen of the Mediterranean, sementara kaum Muslimin mengenalnya sebagai Malika al-Hurra — Ratu Merdeka.
Puncak kejayaannya terjadi saat ia menikah dengan Sultan Ahmad al-Wattasi. Namun Malika menolak meninggalkan Tetouan. Ia tidak mau menjadi bayangan di istana. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Maghrib, seorang sultan datang ke wilayah ratu untuk menikah—sebuah simbol bahwa kekuasaan Malika sejajar dengan raja mana pun.
Meski akhirnya kekuasaannya runtuh akibat pengkhianatan dan intrik politik, nama Malika al-Hurra tak pernah tenggelam. Ia telah membuktikan satu hal penting dalam sejarah Islam:
bahwa wanita bukan hanya penjaga rumah, tetapi juga penjaga kehormatan negeri.
Malika al-Hurra bukan sekadar ratu.
Ia adalah ombak perlawanan yang tak pernah berhenti menghantam penjajah

dikutip dari Facebook postingan Chaneli Erfan
Share:

Rabu, 17 September 2025

DARURAT LITERASI

Darurat Literasi Menghantui Pelajar SMP : Pentingnya Jurus T-A-H-U


Oleh : Tim Jurnalistik PINTAR BACA SPENDATURI

DUKUHTURI – Indonesia kini menghadapi tantangan serius di kalangan pelajar, terutama di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Darurat literasi digital yang kian meluas membuat para remaja rentan terperangkap dalam arus informasi palsu atau hoaks. Fenomena ini tidak hanya mengancam kemampuan mereka dalam membedakan fakta dan opini, tetapi juga berpotensi memecah belah persatuan.

Darurat literasi bukan sekadar masalah ketidakmampuan membaca buku. Menurut pengamat pendidikan, kondisi ini lebih kepada ketidakmampuan berpikir kritis. "Pelajar sekarang mudah sekali menelan informasi tanpa mencari tahu kebenarannya. Mereka lebih cepat menyebarkan daripada memverifikasi," ujarnya

Data menunjukkan bahwa banyak hoaks, mulai dari isu kesehatan hingga konflik sosial, sering kali disebarkan melalui grup percakapan dan media sosial yang banyak digunakan oleh pelajar. Tanpa bekal literasi digital yang kuat, mereka menjadi target empuk bagi para penyebar disinformasi.

Namun, harapan masih ada. Para pegiat literasi dan pendidik kini mulai memperkenalkan jurus sederhana namun ampuh untuk melawan masalah ini, yaitu T-A-H-U.


Mengenal Jurus T-A-H-U

  1. T - Tanyakan: Pelajar diajarkan untuk selalu bertanya tentang sumber informasi. Siapa yang membagikan? Apakah sumbernya terpercaya? Adakah bukti yang mendukung informasi tersebut? Langkah ini melatih mereka untuk tidak mudah percaya pada setiap berita yang muncul di linimasa

  2. A - Analisis: Tahap ini mengajak pelajar untuk menganalisis isi berita secara mendalam. Apakah isi berita itu masuk akal? Apakah judulnya terlalu provokatif? Dengan menganalisis, mereka akan lebih mudah menemukan kejanggalan pada hoaks.

  3. H - Hati-hati: Langkah krusial ini mengingatkan para pelajar untuk berhati-hati sebelum menyebarkan informasi. Jangan biarkan jempol lebih cepat daripada otak. Membagikan hoaks bisa berdampak luas dan merugikan orang lain.

  4. U - Ubah Pola Pikir: Terakhir, ini adalah ajakan untuk mengubah pola pikir menjadi pembelajar seumur hidup. Literasi digital adalah keahlian yang harus terus diasah. Pelajar didorong untuk menjadi agen perubahan yang mengedukasi teman-teman dan keluarga mereka.


Jurus T-A-H-U ini diharapkan dapat menjadi benteng pertahanan bagi pelajar SMP dari bahaya hoaks. Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat diharapkan terus mendukung gerakan ini. Membekali pelajar dengan kemampuan literasi adalah investasi masa depan, agar generasi muda tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga cerdas dan kritis.


Sebuah Kisah inspiratif yang bisa kita pelajari dari pentingnya literasi dalam dunia Digital :

Kisah ini dialami pada sebuah kota yang gemerlap, di mana lampu-lampu neon tak pernah padam dan sinyal internet selalu menyala, hiduplah seorang remaja bernama Arya. Ia dikenal sebagai "Sang Penyebar Kilat" di antara teman-temannya. Bukan karena ia punya kekuatan super, melainkan karena ia selalu menjadi orang pertama yang membagikan berita terbaru di grup WhatsApp, bahkan sebelum berita itu muncul di portal-portal besar.

Suatu sore, sebuah video viral tersebar. Isinya sangat mengejutkan: konon, ada sebuah pabrik minuman ringan yang dicampur dengan bahan-bahan berbahaya, yang menyebabkan penyakit aneh. Judulnya provokatif, gambarnya pun dibuat dramatis. Tanpa berpikir panjang, Arya langsung menekan tombol "sebar" dan mengirimkannya ke semua grup yang ia miliki: grup kelas, grup hobi, bahkan grup keluarga.

Dalam hitungan menit, video itu menyebar bak api di padang rumput kering. Grup-grup percakapan riuh. Beberapa teman Arya langsung panik, orang tua di grup keluarga mulai saling mengingatkan, dan bahkan ada yang membatalkan rencana piknik karena khawatir. Arya merasa bangga, ia merasa dirinya penting dan berkuasa karena bisa memengaruhi banyak orang.

Namun, kebanggaan itu tidak bertahan lama. Keesokan harinya, guru Fisika Arya, Pak Hasan, memulai pelajaran dengan sebuah pertanyaan yang tak terduga. "Anak-anak, apakah kalian tahu tentang video yang beredar kemarin?" tanyanya sambil menatap tajam ke arah Arya.

Arya terdiam. Ada rasa tidak enak di perutnya.

Pak Hasan melanjutkan, "Video itu, setelah saya cek, adalah hoaks. Gambar-gambar di dalamnya diambil dari kejadian berbeda di negara lain, dan video itu dibuat oleh oknum yang ingin menjatuhkan merek tertentu. Pabrik minuman itu bahkan sudah memberikan klarifikasi resmi."

Ruang kelas mendadak hening. Arya merasa malu. Ia sadar, jempolnya yang lincah telah menyebarkan kebohongan yang membuat banyak orang resah. Ia tidak hanya menyebarkan informasi palsu, tetapi juga menyebarkan ketakutan.

"Inilah yang kita sebut darurat literasi," kata Pak Hasan, suaranya terdengar prihatin. "Darurat literasi bukan hanya soal tidak bisa membaca. Ini adalah kondisi di mana kita tidak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kita lebih mudah percaya pada apa yang memancing emosi kita, bukan pada apa yang logis dan punya bukti."

Pak Hasan kemudian menjelaskan bahwa ada tiga langkah sederhana untuk melawan darurat ini: Tanya, Analisis, dan Hati-hati.

Tanya: Selalu tanyakan siapa sumbernya dan apa buktinya. Jika sumbernya tidak jelas dan buktinya meragukan, jangan langsung percaya.

Analisis: Pikirkan baik-baik isi informasi itu. Apakah masuk akal? Apakah ada hal yang janggal?

Hati-hati: Jangan buru-buru menyebarkan. Berikan waktu untuk diri sendiri mencari tahu kebenarannya.

Malam itu, Arya tidak lagi menjadi Sang Penyebar Kilat. Ia lebih suka disebut "Sang Detektif Digital." Sebelum membagikan sesuatu, ia akan bertanya pada diri sendiri, menganalisis, dan berhati-hati. Ia bahkan membuat sebuah pesan di grup kelasnya untuk meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi. Beberapa teman awalnya mengejek, namun lama-lama mereka mulai mengerti dan ikut menerapkan jurus yang sama.

Arya menyadari, dalam lautan informasi yang luas, menjadi yang tercepat tidaklah penting. Yang penting adalah menjadi yang paling bijak. Dan ia percaya, dengan langkah kecil yang ia mulai, ia bisa membantu teman-temannya untuk tidak tersesat di tengah gelombang digital yang tak bertepi.


Sekian dan Trima Kasih 🙏


Share:

Rabu, 27 November 2024

Tim Futsal Putri SMP N 2 Dukuhturi Raih Juara 1 dalam Piala Fourfeo Pelajar Putri Kabupaten Tegal

  


Slawi, 24 November 2024 — Tim futsal putri SMP Negeri 2 Dukuhturi berhasil meraih gelar juara 1 dalam kompetisi Piala Fourfeo Pelajar Putri Kabupaten Tegal yang diselenggarakan pada Minggu, 24 November 2024. Pertandingan yang berlangsung di Lapangan Futsal Muria Slawi ini diikuti oleh berbagai tim futsal dari sekolah-sekolah di Kabupaten Tegal.

Tim futsal putri SMP N 2 Dukuhturi menunjukkan penampilan gemilang sepanjang turnamen. Dengan strategi permainan yang solid dan kerjasama tim yang apik, mereka mampu mengalahkan lawan-lawan tangguh dan mencetak kemenangan demi kemenangan. Pada laga final, mereka bertemu dengan tim futsal dari salah satu sekolah pesaing berat yaitu SMPN 4 Adiwerna dan berhasil meraih kemenangan dengan skor 3-1.

Pelatih tim futsal putri SMP N 2 Dukuhturi, Couch Fahmi Hidayatullah, mengungkapkan rasa bangga atas capaian ini. “Anak-anak telah bekerja keras dan menunjukkan semangat yang luar biasa. Ini adalah hasil dari latihan yang intens dan kerjasama tim yang sangat baik,” ujarnya. Beliau juga menambahkan bahwa kemenangan ini tidak hanya membawa kebanggaan bagi sekolah, tetapi juga memberi motivasi bagi para siswa lain untuk terus berprestasi.

Salah satu pemain terbaik dalam tim, Eka Maulida Az-Zahra, menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari kerja keras dan semangat pantang menyerah. “Kami selalu saling mendukung dan berusaha memberikan yang terbaik di setiap pertandingan. Kami sangat bersyukur bisa membawa pulang trofi juara,” katanya dengan penuh rasa bangga.

Kompetisi Piala Fourfeo Pelajar Putri Kabupaten Tegal sendiri menjadi ajang yang sangat berarti bagi para siswa, terutama dalam mengasah kemampuan futsal mereka. Selain sebagai wadah untuk menumbuhkan semangat berkompetisi, turnamen ini juga bertujuan untuk menjalin persaudaraan antar pelajar dan memperkenalkan futsal sebagai olahraga yang menarik dan menyenangkan.

Dengan raihan juara 1 ini, Tim Futsal Putri SMP N 2 Dukuhturi diharapkan dapat terus mengembangkan potensi mereka dan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya di Kabupaten Tegal. Kemenangan ini juga membuka peluang bagi mereka untuk berprestasi di level yang lebih tinggi.

Tim Jurnalistik SMPN 2 Dukuhturi

 

Share:

Rabu, 11 September 2024



 

Siswa SMP N 2 Dukuhturi Raih Prestasi Gemilang dalam POPDA Cabang Silat

Dukuhturi, [2 September 2024] — SMP N 2 Dukuhturi kembali mengukir prestasi membanggakan dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) cabang pencak silat. Kali ini, ananda Daffi Al Hammani, siswa berprestasi dari sekolah ini, berhasil meraih medali perunggu dalam kompetisi yang berlangsung di MTs N 2 Tegal, Slawi.

Keberhasilan ini merupakan hasil dari kerja keras dan dedikasi yang tinggi dari Daffi Al Hammani dalam berlatih dan berkompetisi di cabang silat. Dengan pencapaian ini, SMP N 2 Dukuhturi terus menunjukkan kualitas dan komitmennya dalam mendukung bakat dan minat siswa di berbagai bidang, termasuk olahraga.

Kami mengucapkan selamat kepada Daffi Al Hammani dan Terimaksih Kepada para pembimbing ekstra Silat Ibu Fuji Rahayu, S.Pd serta Pak Sugeng selaku pelatih atas prestasi yang diraih Ananda Daffi dan berharap semoga prestasi ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh siswa untuk terus berusaha dan berprestasi dalam setiap bidang yang digeluti. Teruslah berkarya dan mengukir prestasi yang membanggakan!


Share:

Selasa, 20 Agustus 2024

Siswa SMP N 2 Dukuhturi Hibur Warga dalam "Semarak GrogolFair" dengan Tari Saman


Grogol, 6 Agustus 2024 — Kegiatan kemasyarakatan “Semarak GrogolFair”

Grogol, 6 Agustus 2024 — Kegiatan kemasyarakatan “Semarak GrogolFair” yang berlangsung pada hari Selasa, 6 Agustus 2024, di Grogol Plaza, berhasil mencuri perhatian dengan penampilan memukau dari siswa-siswa SMP N 2 Dukuhturi. Dalam acara yang mengangkat tema budaya dan kreativitas lokal ini, para siswa mempersembahkan tari saman, sebuah tarian tradisional asal Aceh, yang menambah kehangatan dan keceriaan suasana.


Penampilan tari saman yang ditampilkan oleh sekelompok siswa SMP N 2 Dukuhturi berlangsung di panggung utama acara pada pukul 20.00 WIB. Dengan gerakan yang serempak dan penuh energi, serta diiringi oleh nyanyian yang dinamis, tari saman mereka berhasil memukau ribuan pengunjung yang hadir. Penampilan ini tidak hanya menggambarkan keindahan budaya Indonesia, tetapi juga menegaskan dedikasi dan kerja keras para siswa dalam mempersiapkan pertunjukan ini.

Kepala SMP N 2 Dukuhturi, Bapak Ahmad Syahputra, dalam pernyataannya mengatakan, “Kami sangat bangga dengan penampilan siswa-siswi kami dalam Semarak GrogolFair. Tarian saman ini merupakan hasil latihan intensif dan kerja sama yang luar biasa dari mereka. Ini adalah cara kami untuk menunjukkan apresiasi terhadap budaya Indonesia dan mempererat hubungan dengan masyarakat.”

Acara “Semarak GrogolFair” yang diadakan oleh Pemerintah Kecamatan Grogol ini bertujuan untuk merayakan keberagaman budaya dan mendukung kreativitas anak muda. Selain tari saman dari SMP N 2 Dukuhturi, acara ini juga menampilkan berbagai pertunjukan seni dan budaya lainnya, serta berbagai stan yang menawarkan produk lokal dan makanan khas.

Antusiasme pengunjung terhadap penampilan tari saman terlihat dari sorakan dan tepuk tangan meriah yang diberikan kepada para penampil. Para siswa, yang mengenakan pakaian adat Aceh yang khas, berlatih selama beberapa minggu untuk mempersiapkan penampilan ini, dan usaha mereka terbukti berhasil dalam memberikan hiburan berkualitas kepada masyarakat.

Dengan berpartisipasinya SMP N 2 Dukuhturi dalam “Semarak GrogolFair”, diharapkan lebih banyak kesempatan untuk mempromosikan budaya dan menciptakan keterhubungan antara generasi muda dengan komunitas lokal. Acara ini menjadi momen spesial yang menunjukkan bahwa seni dan budaya dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai lapisan masyarakat.

Reporter: [Idhot T Bahtiar S.Pd.I]
Editor: [Iqbal Fajrin Averos, S.Pd]

Share:

Blogger templates